Harga Emas Naik di Asia Setelah Data China

Emas mengalami kenaikkan di Asia pada hari Rabu setelah data dari China yaitu PDB, output dan penjualan ritel dirilis.

Emas untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Mercantile Exchange naik 0,12% menjadi $ 1,264.45 per troy ounce. Juga di Comex, perak berjangka untuk pengiriman Desember naik 0,11% ke $ 17,657 per troy ounce, sementara tembaga berjangka meningkat 0,14% menjadi $ 2,105 per pon.

China melaporkan GDP kuartal ketiga dengan kenaikkan sebesar 1,8% bersama dengan kenaikkan untuk tahunan sebesar 6,7% seiring dengan angka yang solid untuk penjualan ritel, produksi industri dan investasi aset tetap. China adalah konsumen tembaga terbesar di dunia, hampir 45% dari konsumsi dunia.

Semalam, harga emas mengalami kenaikkan di perdagangan sesi Amerika pada hari Selasa, sebagai hasil yang mengecewakan dari data inflasi AS dipandang sebagai mengurangi tekanan pada Federal Reserve untuk mengetatkan kebijakan moneter, dan membebani dolar.

Departemen Perdagangan AS mengatakan bahwa harga konsumen naik tipis 0,3% pada bulan September, sesuai harapan dan naik dari 0,2% pada bulan sebelumnya. Untuk tahunan, harga konsumen naik 1,5% bulan lalu, setelah naik 1,1% pada bulan Agustus. Itu angka tertinggi sejak Oktober 2014.

Sementara itu, CPI, tidak termasuk makanan dan energi komponen volatile, naik 0,1%, lebih rendah dari perkiraan 0,2% dan melambat dari 0,3% bulan sebelumnya. Dalam 12 bulan hingga September, inti CPI naik 2,2%.

Laporan mengecewakan mendorong investor untuk mendorong kembali harapan untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya. Emas sensitif terhadap pergerakan suku AS, dimana untuk tingkat suku bunga yang lebih tinggi dipandang mengurangi minat terhadap emas.